Selasa, 04 September 2012

Riwayat Eyang R.T Kartowiryo


A. Sebagai keturunan Kyai Ageng Sela
     Para putra Kyai Ageng Sela

1.     Nyai Ageng Lurung Tengah, bersuami Kyai Ageng Sehat.
2.     Nyai Ageng Bangsri.
3.     Nyai Ageng Sobo.
4.     Nyai Ageng Jati.
5.     Nyai Ageng Patanen.
6.     Putera dan meninggal ketika masih Balita.
7.     Nyai Ageng Pakisdadu.
8.     Nyai Ageng Pakiskidul.
9.     Nyai Ageng Gelasaji.
10. Kyai Ageng Enis.
11. Kyai Ageng Pasuson.
   Nyai Ageng Lurung Tengah berputra : Nyai Ageng Rogosuto. Nyai Ageng Rogosuto berputra : Ronggo Bagus yang bermukim di Kutowarung.
Ronggo Bagus berputra :
1.     R. Kartowiryo
          R. Kartowiryo berputra :
          a. R. Ronggo Kertoyudo
          b. Mas Ayu Hondokoro
          c. R. Kartowiryo II
          d. R. Ronggo Kartonadi.
    2.   R. Ronggo Surowijoyo
    3.   R. Ronggo Suromenggolo.

         Raden Ronggo Kertoyudo berputra 5 orang. Putra nomor 4 diangkat menjadi patih Surakarta dan bergelar R.T Sosrodiningrat dan kemudian beliau diganti putranya R.T Mangkuprojo.
         R. Kartowiryo dalam riwayat ini, adalah hulubalang Kepatihan dengan pangkat Kliwon yang menjadi saudara sepupu R.T Mangkuprojo patih Surakarta karena sesama cucu R. Kertoyudo.
         Nama R. Kertowiryo, telah dipakai oleh para leluhur sebelum R.T Kartowiryo.

B. Ketika R.T Mangkuprojo menjadi patih Surakarta timbul pemberontakan Madiun yang mbalelo terhadap Kerajaan Surakart.
          Ketika R. Kartowiryo sedang melatih perang para prajurit di alun-alun, dengan tiba-tiba Sang Raja Surakarta datang meninjau. Semua yang hadir di alun-alun tunduk dan duduk bersila menghaturkan sembah kepada Sang Raja. Tetapi R. Kartowiryo tetap berdiri tegak sambil memeluk Keris Nogososro dan Tumbak Lindu Panon. Sang Raja merasa masgul dan bertanya siapa itu yang tetap berdiri tegak dan tak menghormat kedatangan Sang Raja. Raden Kertowiryo segera diperintahkan menghadap Raja. Setelah R. Kertowiryo menyerahkan Keris dan Tumbak, segera ia duduk bersimpuh menghaturkan sembah kepada Sang Raja dengan demikian sama sekali tidak bermaksud degsura kepada Raja. Setelah Sang Raja menerima Keris dan dihunus. Betapa kaget hati Sang Raja, sebab keris tersebut bukan lain adalah pusaka Mataram (Kartosuro) yang hilang ketika timbul pemberontakan Cina yang dipimpin Mas Garendi dan menghancurkan istana. Seketika itu pula Sang Raja ingat pesan ayahanda  Sang Prabu, bahwa akibat pemberontakan berandal Cina yang berhasil memporak-porandakan istana Kartosuro maka hilang pula wasiat kerajaan yakni Keris Nogososro dan Tumbak Lindu Panon.
          Saat itu pula, betapa gembira hati Sang Raja karena kedua pusaka yang hilang telah kembali. Sang Raja tidak jadi murka, malah sebaliknya memberikan hadiah kepada R. Ronggo Kertowiryo sebagai pengganti, berupa tanah perdikan (=bebas pajak) Pandak Karangnongko yang luasnya 11 jung.
        Peristiwa lain yang membuat Sang raja sangat terkesan, ketika Kliwon Ronggo Kartowiryo berkuda mengawal Sang Raja berkunjung ke Loji Residen Surakarta untuk menghormat tahun baru. Ketika turun dari kuda itulah Keris wasiat Kliwon Kertowiryo melesat lepas dari wrangkanya dan mengeluarkan sinar hijau/biru, suatu tanda bahwa keris itu sangat bertuah  Keris Naga Kencana. Sang Raja sangat heran melihat kehebatan sang Keris dan segera dimintanya untuk menjadi Pusaka Kerajaan. Betapa bertambah sangat kasih Sang Raja kepada Kliwon Ronggo Kertowiryo terbukti dengan diangkatnya Kliwon Kertowiryo menjadi Bupati daerah Sukowati dengan sebutan Raden Tumenggung Kartowiryo yang saat ini makamnya di Gedung Gede Astana Prampalan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar